motorcycle-sepeda motor

This site is collecting news about motorcycle.

Wednesday, April 26, 2006


Sepeda Motor Semakin “Ngetop”

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 Oktober 2005, ternyata dampaknya luar biasa. Keluh-kesah tidak hanya terdengar dari sopir dan pengguna angkutan umum, ibu rumah tangga, atau masyarakat akar rumput, tetapi juga datang dari anggota masyarakat kelas menengah, yang sehari-harinya selalu menggunakan mobil pribadi sebagai sarana transportasi.

"Kenaikan harga BBM hingga mencapai 100% betul-betul menyakitkan. Seperti dikatakan sejumlah pengamat, besaran kenaikannnya melebihi kemampuan rakyat pada umumnya," tutur Rachmat Djunaedi. Pegawai swasta di daerah Bandung tengah, yang penghasilan setiap bulannya (gaji) Rp 4 juta itu, malahan berencana bila dalam sebulan perusahaannya tidak memberi subsidi yang signifikan atas kenaikan harga BBM, terpaksa mengganti sarana transportasinya dari mobil ke sepada motor, atau mungkin memanfaatkan angkutan umum.

Lelaki berusia 49 tahun itu menggambarkan, selama ini sarana trasnportasi dirinya dan keluarga menggunakan Toyota Kijang keluaran 2002. Setiap bulannya, Rachmat mengeluarkan dana BBM (premium) rata-rata Rp 400.000,00 sampai Rp 500.000,00/ bulan. "Dengan pengeluaran sebesar itu, saya tidak merasa berat. Pengeluaran untuk BBM masih berkisar 10% dari pendapatan bersih," katanya.

Namun, sejak Oktober, Rachmat bersama istrinya kerap terlibat diskusi di tempat tidur pada saat menjelang tidur, bagaimana menyiasati dampak kenaikan harga BBM terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga. Kalau dengan gaya hidup seperti selama ini, diakuinya pengeluaran untuk BBM akan membengkak 100% menjadi Rp 800.000,00 hingga Rp 1 juta. "Kalau tidak melakukan langkah-langkah penghematan, perekonomian keluarga bisa kacau," tambahnya.

Menurut Rachmat, kenaikan harga BBM kali ini berdampak seperti orang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pendapatan masyarakat tidak mengalami perubahan, tapi pengeluaran malah membengkak, karena harga aneka barang melonjak cukup tajam. Sehingga pengetatan ikat pinggang merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Salah satunya, ungkap Rachmat, dia berencana mengandangkan mobilnya, diganti dengan sepeda motor. "Hanya sesekali menggunakan mobil," tambahnya.

Hal senada diungkapkan Asep Hidayat asal Bandung Timur, pegawai swasta yang sehari-harinya menggunakan sedan Peugeot tahun 1985 warna putih, Gandi warga Maleer Jln. Gatot Subroto Bandung yang memiliki Honda Civic Wonder tahun 1984, Maftuh warga Jln. Pungkur, dan Edwin penduduk Perum Santosa Asih Jaya. "Bensin mahal atuh pak, jadi sekarang mah pakai motor aja biar irit," kata Gandi.

Pernyataan mereka bisa dimaklumi. Bayangkan, bila sebelumnya dengan uang Rp 25.000,00 bisa membeli 10 liter lebih premium, tapi sekarang dengan naiknya harga premium dari Rp 2.400,00/ liter menjadi Rp 4.500,00/ liter, maka uang sebanyak itu hanya mampu membeli lima liter lebih.

Berubahnya pola berkendara juga ternyata tidak hanya dilakukan kelas menengah ke bawah, juga kelas menengah ke atas. Dadang Amir Hamzah, Ketua Hiswana Migas Cabang Bandung-Sumedang, setelah adanya kenaikan harga BBM terpaksa berpikir dua kali melakukan perjalanan memakai kendaraan roda empat. Sekiranya urusan bisa diselesaikan dengan jarak jauh, ia pilih menggunakan telefon.

**

KISAH di atas hanyalah beberapa contoh, yang belum tentu bisa menggambarkan kondisi sebenarnya tentang banyaknya warga yang tadinya bermobil pribadi beralih ke sepeda motor atau kendaraan umum. Namun, kecenderungan tersebut ternyata diperkuat dengan tingkat konsumsi BBM pascakenaikan.

Berdasarkan data yang dihimpun "PR" dari pengelola SPBU, sejak kenaikan harga BBM, penjualan premium mengalami penurunan hingga 50%. Seperti diungkapkan Deni, pengelola SPBU No. 34.40110 di perempatan Jln. Supratman dan Jln. A. Yani. Menurutnya, sejak terjadinya kenaikan harga BBM, penjualan premium turun cukup tajam. Sebelumnya terjual 20 kilo liter (kl) selama satu hari satu malam, tapi kini menjadi 10 kl. Solar dari sebelumnya 10 kl menjadi 8 kl.

Hal yang sama diungkapkan Fredy, pengelola SPBU No. 34.40113 di Jln. Martadinata. Sebelum kenaikan harga BBM, penjualan premium sehari semalam mencapai 16 kl, setelah kenaikan hanya 8 kl. Beda lagi dengan SPBU Cikapayang, sejak terjadi kenaikan BBM, penurunan penjualan premium hanya 20%. Menurut pengelola, Ir. Marsu, MM, tidak terlalu turunnya penjualan karena letak SPBU Cikapayang cukup strategis, apalagi akhir-akhir ini seringkali warga Jakarta yang belanja ke Factory Outlet (FO) di Dago dan mereka selalu mengisi bensin di SPBU Cikapayang.

Ketua Hiswana Migas Cabang Bandung-Sumedang, Dadang Amir Hamzah, mengakui adanya penurunan pembelian premium di Kota Bandung. Namun pihak Hiswana belum bisa menghitung secara keseluruhan persentase penurunan tersebut. "Kami sudah mendapat laporan dari beberapa pengusaha SPBU adanya penurunan penjualan premium semenjak terjadinya kenaikan harga BBM," ujarnya.

Menurut Dadang, sudah menjadi kebiasaan setelah kenaikan harga BBM terjadi penurunan konsumsi BBM namun penurunannya tidak setajam kali ini. Karena itulah, untuk kembali normal dibutuhkan waktu cukup lama karena kenaikan harga BBM kali ini telah mengubah pola berkendara.

Humas Pertamina Cabang Bandung, Edi Adrian menyambut baik adanya penurunan konsumsi premium di Kota Bandung, dengan adanya penurunan tersebut berarti program pemerintah berhasil. "Kalau keadaan demikian berarti program penghematan yang diinstruksikan presiden berhasil," katanya.

Meski begitu, menurut Edi, sejauh ini pasokan BBM dari Pertamina masih normal dan belum ada pengurangan meski di SPBU ada penurunan penjualan.

**

MENURUNNYA permintaan BBM akhir-akhir ini, bisa jadi karena warga lebih menahan diri untuk bepergian karena sedang menjalani ibadah Saum. Mereka khawatir puasanya batal, sehingga jumlah kendaraan, baik kendaraan pribadi- roda empat maupun motor, atau kendaraan umum, berkurang di jalanan Kota Bandung. Tapi, ada bukti lain yang cukup menarik. Ternyata jumlah permintaan sepeda motor akhir-akhir meningkat.

Seperti dikatakan Rusmin pengelola Dealer Terang Motor. Ia mengaku sejak kenaikan harga BBM penjualan motor naik antara 15% hingga 25% dari hari-hari sebelumnya. "Biasanya kami mengeluarkan motor sekitar 20 unit, sekarang sudah di atas 30 unit per harinya. Namun hampir 90 persen motor itu dijual dengan sistem kredit," katanya.

Adanya kenaikan angka penjualan sepeda motor, Rusmin mengaku memang tiap bulan Ramadan selalu ada peningkatan, hanya besaran persentasenya tidak seperti tahun ini. "Mungkin sekarang lebih banyak yang beralih pakai motor karena BBM mahal," katanya.

Padahal, kata dia, membeli sepeda motor secara kredit sekarang jauh lebih sulit dari sebelumnya. Hal itu terjadi, karena banyak kreditur yang tidak mampu membayar cicilan per bulannya, sehingga motor kreditannya terpaksa disita. Belum lagi, uang muka sepeda motor, bila sebelumnya cukup Rp 500.000,00 atau bahkan 0% , kini rata-rata uang mukanya sudah naik sekitar Rp 1 juta ke atas. Bunga dari perusahaan leasing juga naik, sebelumnya 12%, sekarang sekitar 15%.

Fenomena ini tentu menjadi pertanyaan. Apakah kecenderungan itu akan terus berlangsung? Jika itu yang terjadi, Kota Bandung akan menjadi "kota motor". Namun dari pengalaman selama ini, bila bangsa ini mengalami shock biasanya hanya bersifat sementara. Kekagetan atas melambungnya harga BBM hanya sesaat. Dalam hitungan bulan, warga akan kembali ke gaya hidup semula. Atau, kenaikan harga BBM kali ini akan membawa cerita lain, sebutlah perekonomian mengalami stagnasi.

Namun, lepas dari itu semua, peristiwa tersebut harus menjadi tantangan, Pemkot Bandung sudah saatnya menata transportasi umum. Sehingga, setiap warga jika bepergian lebih memilih kendaraan umum, karena merasa lebih nyaman. Tidak seperti selama ini. (Yedi/Endi S/"PR")***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1005/12/0106.htm

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home