motorcycle-sepeda motor

This site is collecting news about motorcycle.

Wednesday, April 26, 2006

Industri Komponen, Peluang Indonesia di Industri Otomotif

BUDI S Pranoto, Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk, pekan lalu segera bergegas terbang ke Thailand untuk melihat perkembangan industri otomotif di Negeri Gajah Putih itu. "Saya sengaja terbang ke Thailand sebelum cek kesehatan di Australia. Saya pergi ke sana memang khusus untuk melihat perkembangan industri otomotif plus komponennya yang begitu maju. Saya ingin tahu di mana posisi kita dan bagaimana prospeknya. Kalau kita tidak melihat langsung, kita tidak pernah tahu bahwa Thailand telah berkembang begitu pesat," kata Budi saat bertemu di sebuah café di salah satu hotel di Jakarta.

THAILAND memang fantastis. Negeri ini mampu memosisikan dirinya sebagai Detroit-nya Asia di bidang industri otomotif. Mereka memiliki industri tidak hanya sebatas pada industri perakitan, tetapi juga sudah masuk ke sektor manufakturnya. Hal ini tidak mustahil akan mendorong tumbuhnya industri komponen. Kemampuan mereka untuk tumbuh seperti jamur sangat dimungkinkan karena memang fokus kebijakannya ada, juga dukungan dana bank yang murah. Praktis kegiatan produksi menjadi efisien. Kondisi itulah yang mendorong beberapa pabrikan mobil bermerek memilih Thailand sebagai basis produksinya untuk Asia.

"Ini harus kita waspadai, apalagi konsep strategi bisnis ke depan produsen otomotif dunia adalah satu pasar Asia. Kalau kita tidak jeli, maka potensi pertumbuhan pasar komponen di Asia, khususnya Indonesia yang begitu pesat setelah memasuki masa krisis tahun 1998 akan mereka ambil. Jadi kita juga m esti punya strategi yang jitu," kata Budi dengan nada meyakinkan.

PERKEMBANGAN industri komponen di dalam negeri memang semakin marak. Meskipun sampai saat ini belum ada data yang pasti berapa sebenarnya para pelaku industri besar, menengah maupun kecil yang bergerak di industri komponen. Namun terlepas dari ketidakjelasan itu, yang pasti tren pertumbuhan otomotif roda dua maupun empat semakin marak, seiring dengan strategi baru pemain otomotif dunia untuk menjadikan Asia sebagai basis industri mereka. Hal itu mendorong permintaan akan jenis komponen yang beragam juga semakin tinggi sehingga membuka peluang yang tidak kecil, khususnya di sektor kendaraan roda dua.

"Pertumbuhannya luar biasa setelah krisis. Paling tidak pengalaman yang saya alami sendiri. Saat krisis luar biasa pahitnya. Saya yang baru tumbuh pada tahun 1995-an tiba-tiba harus menghadapi kenyataan hilangnya pasar. Penghasilan yang awalnya mencapai ratusan juta rupiah anjlok hingga tinggal puluhan juta rupiah per bulan sulit minta ampun. Itu pun masih harus berebut dengan yang lainnya," kata Presiden Direktur PT Wijaya Adhi Citra Linggo Suprapto mengenang masa sulit tersebut.

Buruknya situasi itu membuat kalangan pelaku di industri komponen rontok satu per satu dimakan beban meningkatnya biaya bank. Jepitan itu pada akhirnya memaksa kalangan industri komponen untuk melepas asetnya dan yang dipilih adalah mesin untuk membuat komponen. Praktis jumlah pelaku di sektor komponen otomotif pun semakin mengecil. "Tak sedikit dari para pelaku industri komponen yang terpaksa menjual asetnya yang paling berharga, yaitu mesin sekadar untuk menutup utang."

Sejak saat itu, kata Linggo, dirinya harus memutus puluhan mitra yang selama ini menerima order darinya. Kini mitra itu tinggal 17 orang. Tahun 1998, betul-betul tahun yang pahit. Pada saat itu tak banyak pelaku yang bisa menjual produknya karena pengguna yaitu industri sepeda motor seperti Honda, Yamaha, Kawaski, maupun Suzuki juga banyak kehilangan order. Bahkan Honda yang pernah mencapai 800.000 unit pada tahun itu turun hingga 400.000-an unit. Kelesuan pasar sepeda motor itu praktis memukul para produsen komponen.

Namun masuk pada tahun 1999, situasi pasar sepeda motor mulai membaik. Pasar kembali mencapai hampir satu juta unit. Puncaknya adalah tahun 2002 dimana pasar meningkat hingga dua juta unit lebih. Bahkan menurut data kalangan agen tunggal pemegang merek, selama empat bulan tahun 2003 volume penjualan pasar sepeda motor sudah mencapai 734.772 unit. Membaiknya pasar ini, kata Linggo, juga memperbaiki hasil penjualan bersih mereka. Kini order yang dikerjakannya mencapai 300 sampai 350 jenis dengan nilai Rp 3 miliar per bulan. Menurut Linggo, di areal pabrik seluas 6.000 meter lebih ini dibuat berbagai macam komponen otomotif untuk kendaraan roda dua merek Honda, Kawasaki, Yamaha, maupun Suzuki, umumnya adalah komponen yang bersifat general seperti ring, briket, gasket, maupun knalpot yang dibuat dalam bentuk terurai. Di pabrik komponen itu baru dirakit menjadi unit sepeda motor.

Apa yang dikemukakan oleh Linggo diamini oleh Direktur Teknik PT Melati Unggul Sarana M Sunarto. Pensiunan perwira menengah Angkatan Udara ini merupakan mitra dari PT Wijaya yang diberi order untuk membuat briket. Omzetnya memang belum besar, yakni masih berkisar puluhan juta saja per bulan. Namun secara tren pertumbuhannya, kata Sunarto, terus meningkat.

GAMBARAN itu, tambah Budi Pranoto, menunjukkan bagaimana tren pasar komponen ini begitu tinggi. Katakan dengan perkiraan ekstrem pertumbuhan industri otomotif dalam lima tahun ke depan mencapai 2,2 juta unit per tahunnya, maka paling tidak akan ada 11 juta unit dalam lima tahun itu. Semua itu butuh komponen baru. Angka itu belum termasuk sepeda motor bekas yang minimal mencapai puluhan juta unit dalam 10 tahun terakhir. "Jadi ini merupakan peluang yang tidak kecil. Kalau kita salah membaca peta persoalan, maka Thailand, Cina, maupun Taiwan yang selama ini dikenal sebagai produsen komponen akan memukul industri nasional. Akhirnya segmen pasar kita bisa digerogoti," kata Budi

Oleh sebab itu, dirinya berangkat ke Thailand untuk menjajaki kemungkinan kerja sama yang lebih luas. Kerja sama itu tidak hanya sebatas traders, tetapi dimungkinkan untuk menjadi mitra investasi. Kalau rencana itu sampai direalisasikan bukan semata-mata produsen lokal, seperti Astra Otoparts ini tidak ingin mengembangkan di Indonesia. Namun langkah itu dipilih sebagai tindakan antisipasi pasar menjelang putusan para pemain otomotif dunia untuk memberlakukan Asia sebagai satu pasar. Pilihan ke Thailand ini selain biaya bunga hanya 4 persen juga memiliki jaringan yang kuat. Dengan demikian posisi produsen nasional seperti Astra Otoparts bisa lebih leluasa untuk memainkan peluang pasar yang lebih luas. Apa pun yang terjadi dengan bermitra di Thailand, tetap memberikan keuntungan yang lebih besar apalagi nanti tidak ada lagi batasan pasar dan proteksi bea masuk.

"Industrinya menjadi efisien dan jaringannya kuat. Kita jadi tidak hanya masuk ke pasar Thailand, tetapi Juga Malaysia, maupun Indonesia sendiri. Ini kan keuntungan yang tidak kecil. Bagi saya bagaimana cara menguasai pasar dengan menumpang kendaraan lain," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya tengah merancang suatu pola perdagangan yang lebih modern. Tidak lagi hanya sebatas melalui jalur yang panjang, tetapi lewat service point, sehingga mata rantai bisa dipotong lebih pendek. Dengan cara ini, jika manufakturnya kalah, maka transaksinya masih kuat. Namun bisa jadi, dengan kuatnya transaksi tersebut, maka industri tidak terpotong.

Namun apa pun kenyataannya, tren bisnis komponen terus menanjak. Sebagai gambaran bisa dilihat dari pertumbuhan ritel yang dikembangkan oleh Astra Otoparts. Tahun 1997 jumlah ritel komponen baru mencapai 1.921 outlet. Tahun 1998 meningkat lagi menjadi 2.130 ritel, tahun 2000 menjadi 3.377 ritel dan tahun 2002 melonjak menjadi 10.381 ritel. Bahkan dalam tiga bulan tahun 2003 naik lagi menjadi 10.907 ritel.

Penjualan bersih setelah konsolidasi pada tahun 1998 mencapai Rp 1,237 triliun, tahun 2000 naik menjadi 1,944 triliun dan tahun 2001 menjadi 1,097 triliun. Namun memasuki tahun 2002 penjualan bersih Astra Otopart menurun menjadi 2,063 triliun, maka secara keseluruhan data itu mengindikasikan bagaimana kuatnya tren pertumbuhan permintaan akan komponen. Dalam beberapa tahun ke depan peluang bakal semakin besar.

Paparan di atas menunjukkan bagaimana sektor ini merupakan industri potensi di masa depan. Oleh sebab itu, pemerintah harus membantu dengan membuat kebijakan industri yang lebih fokus dan sinergi dengan sektor keuangan agar insentif itu bisa dinikmati para pelaku.

Dukungan ini sangat penting, agar momentum satu pasar Asia bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku komponen otomatif nasional, baik yang bergerak di sektor perdagangan maupun industrinya.

Bila tidak, tambah Samsi Achmad yang juga Direktur Melati Unggul Sarana. Menurut Achmad, pemerintah, khususnya daerah justru tidak mendukung kegiatan yang dikembangkan oleh industri menengah komponen. Berbagai kebijakan yang dibuat seolah ditujukan untuk menyengsarakan pengusaha. Misalnya mereka meminta untuk dilakukan pemutihan izin usaha industri yang dulu dikeluarkan pusat dengan mematok tarif tertentu. Demikian juga pengenaan iuran untuk kompresor, maupun diesel yang luar biasa mahalnya. Praktis industri komponen tidak bisa berkembang baik.

"Belum lagi pajak yang tidak jelas aturan mainnya. Jadi pengusaha ini akhirnya jadi bahan perahan dan tidak bisa efisien. Hasilnya barang yang dijual menjadi lebih mahal," kata Achmad. Sayang, jika perilaku aparat ini pada akhirnya membuat industri komponen otomotif nasional kehilangan daya kompetitifnya di pasar lokal maupun Asia.

Bila kondisi yang membaik ini justru didukung, maka akan lebih baik hasilnya. Industri komponen nasional bisa ikut bermain dan mungkin menang sektor tertentu di industri otomotif. (ast/boy)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/22/Otomotif/324945.htm

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home