motorcycle-sepeda motor

This site is collecting news about motorcycle.

Thursday, May 04, 2006

PERKEMBANGAN SEPEDA MOTOR DI INDONESIA

Latar belakang mengapa populasi sepeda motor di Indonesia semakin bertambah, adalah karena kebutuhan masyarakat terhadap transportasi yang satu ini juga mengalami peningkatan. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, antara lain :

  1. Sepeda motor merupakan sarana transportasi yang murah dan terjangkau
  2. Banyaknya dealer yg menawarkan kemudahan utk memiliki sepeda motor
  3. Banyaknya lembaga pembiayaan yg memberikan kemudahan kredit kepemilikan spd motor
  4. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa sepeda motor adalah salah satu alternatif mengatasi kemacetan lalu lintas

Perkembangan industri sepeda motor ini menimbulkan berbagai macam dampak, baik itu positif maupun negatif. Dampak positif yang bisa diambil dari adanya perkembangan industri sepeda motor ini, antara lain :

Terbukanya kesempatan kerja

Dengan semakin berkembangnya industri sepeda motor, tentu didukung dengan pembangunan sarana pendukungnya misalnya ; bengkel untuk service, berkembangnya jenis pekerjaan yang mendukung industri sepeda motor. Dengan dibangunnya sarana pendukung tersebut tentunya kesempatan kerja akan pula tercipta

Peluang bagi lulusan jurusan otomotif baik SMK maupun Perti

Banyaknya kesempatan kerja yang tercipta dari berkembangnya industri sepeda motor, tentunya merupakan peluang besar bagi tenaga kerja terutama mereka yang lulus dari jurusan yang berhubungan dengan sepeda motor seperti SMK jurusan otomotif

Peluang pengembangan jurusan otomotif baik di SMK maupun Perti

Walaupun peluang kerja bagi lulusan jurusan otomotif sangat besar, namun bila tidak diimbangi dengan pengembangan jurusan otomotif itu sendiri misalnya dengan : pengembangan mutu tenaga pendidik, mutu lulusan, perbaikan sarana dan prasarana, perbaikan kurikulum maka kesempatan kerja yang telah tercipta tersebut tentunya tidak akan dapat termanfaatkan

Peluang peningkatan kreativitas

Perkembangan kebutuhan akan sepeda motor sebagai sarana transportasi oleh masyarakat, yang tentunya tidak lepas dari berbagai masalah. Hal itu akan merangsang kreativitas orang untuk berusaha menyelesaikan tiap masalah yang muncul dari sepeda motor tersebut

Peluang berkembangnya jenis pekerjaan yang berhubungan industri sepeda motor

Dengan berkembangnya industri sepeda motor, sangat tidak menutup kemungkinan untuk munculnya jenis pekerjaan yang berhubungan dengan sepeda motor, misalnya desainer produk otomotif yang diprediksi akan semakin bagus prospeknya di masa yang akan datang.

Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan kemajuan industri sepeda motor tentunya juga ada sisi negatif yang diakibatkan oleh perkembangannya yang semakin pesat tersebut. Dampak negatif yang diakibatkan tersebut antara lain adalah :

Tingginya tingkat polusi udara

Gas buang yang dihasilkan dari kendaraan bermotor seperti sepeda motor akan menghasilkan tingkat polusi yang cukup besar dan berbahaya, seperti kita lihat dari gambar diatas. Polusi tersebut dari hari ke hari akan semakin bertambah, sejalan dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor.

Menimbulkan kemacetan lalu lintas

Selain polusi udara yang diciptakan dari gas buang sepeda motor tersebut, kemacetan lalu lintas juga merupakan masalah dari berkembangnya sepeda motor. Walaupun sebagian besar orang memilih sepeda motor sebagai sarana untuk menghindari kemacetan karena bodinya yang ramping, namun tanpa mereka sadari semakin banyak orang menggunakan kendaraan pribadi maka kemacetan akan terus terjadi, bahkan akan semakin macet.

Meningkatnya kebutuhan thd BBM

Penjualan otomotif khususnya sepeda motor yang cukup meningkat, akan berpengaruh kepada kebutuhan akan BBM yang juga akan naik. Meningkatnya kebutuhan akan BBM ini akan semakin mengurangi pasokan BBM di tanah air.

Tuesday, May 02, 2006

Dealer sepeda motor -- atraktif!!!!

Panca Group Motor adalah merupakan salah satu Dealer Khusus Sepeda Motor Bekas.
Melayani Jual-Beli, Tukar-Tambah baik secara tunai maupun kredit.

Panca Group Motor bekerja sama dengan beberapa Perusahaan Pembiayaan Kredit Sepeda Motor, yang akan sangat membantu Anda dalam memiliki Sepeda Motor Bekas secara kredit dengan proses yang sangat mudah dan cepat.

Panca Group Motor memberikan Jaminan Garansi kepada para pelanggan terhadap seluruh Sepeda Motor Bekas yang telah dibeli, yang tidak dimiliki oleh dealer sepeda motor bekas lainnya.

Hanya Panca Group Motor yang memberikan Anda Sepeda Motor Bekas yang berkwalitas !!!.

Sebagai pengembangan dari usaha Panca Group Motor, saat ini Panca Group Motor melayani juga pemesanan Cutting Sticker.

Kami menerima pemesanan Cutting Sticker baik untuk individual, organisasi, perusahaan, dll tanpa minimum order dan tentunya dengan harga yang kompetitif.

Segera bawa atau kirim design Anda ke kami, dan buktikan kwalitas Cutting Sticker yang kami hasilkan untuk Anda.

Monday, May 01, 2006

Menyediakan Pembiayaan Kepada Pengguna Sepeda Motor

Fokus PMF adalah pembiayaan sepeda motor untuk masyarakat umum yang membutuhkan, dengan pemasukan yang cukup dan kemampuan untuk memenuhi kriteria lain, karena kami menyadari bahwa sepeda motor telah mejadi alat trasportasi yang praktis dan dibutuhkan oleh jutaan rakyat di berbagai komunitas di Indonesia, khususnya untuk konsumen tingkat bawah hil'1gga menengah.

Maka, prospek industri sepeda motor sangat cerah, dan keyakinan para produsen sepeda motor yang besar, mengingat pertumbuhan populasi dan peningkatan bertahap (walaupun lambat) daya beli. Patut dicatat bahwa terdapat satu sepeda motor per empat penduduk di negara tetangga kita yaitu Thailand, sementara untuk negara berkembang seperti Indonesia, walau jumlahnya masih satu dibanding duabelas, potensi pertumbuhan terbilang besar.

Produsen sepeda motor seperti Honda dan Yamaha telah mendirikan pabrik-pabrik baru, meluaskan distribusi dan jaringan dealer, serta aktif dengan iklan dan kampanye promosi nasional.

Jumlah uang tunai yang diperlukan untuk pembelian sepeda motor baru adalah cukup tinggi dan sulit bagi banyak konsumen untuk mendapatkannya tanpa pembiayaan, maka, PMF mengikuti tren penjualan sehat dengan layanan pembiayaan yang dibutuhkan: sebuah "daya tarik' pasar yang kuat.

PMF telah memutuskan untuk berkonsentrasi pada layanan leasing dan financing untuk tiga merek utama sepeda motor di pasaran sekarang: Honda, Suzuki & Yamaha.

Arus Balik Sepeda Motor Padati Jalur Pantura

Tegal (ANTARA News) - Arus balik pengendara sepeda motor yang melalui jalur Pantura sejak Minggu (6/11) hingga Senin (7/11) mulai meningkat tajam.

Kepadatan arus balik mulai terasa pagi hari dan terus meningkat hingga siang. Ratusan motor yang didominasi plat nomor polisi asal Jakarta dari arah timur beriring-iringan memadati sepanjang ruas jalan Kota Tegal dari Jalan Martoloyo hingga Jalan Raya Kaligangsa.

Pada H+3 Sabtu, kepadatan arus balik pengendara sepeda motor menuju barat sudah terasa. Memasuki malam, kepadatan ruas jalan berganti dengan kendaraan roda empat.

Puncak kepadatan terjadi mulai pukul 19.00 hingga 22.00. Ribuan mobil dari arah timur merayap sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo dari pertigaan Hotel Pramesthi hingga perempatan Maya.

Kepadatan juga terjadi di Jalan Raya Martoloyo serta jalan Kolonel Sugiyono hingga Terminal Tegal.

Salah seorang petugas Pos perempatan Maya mengungkapkan, kepadatan di perempatan Maya disebabkan jalur tersebut menjadi titik pertemuan dua arah, yakni dari arah timur dan
selatan.

Sementara itu sejumlah kecelakaan kecil mewarnai arus balik di sepanjang jalur pantura Kota Tegal sejak Minggu (6/11). Senin (7/11) pagi sekitar pukul 06.00 sebuah mobil berplat nopol B-8887-N
yang dikemudikan Agus Susanto (35) diduga menyerempet seorang pengendara motor di Jalan Raya Martoloyo.

Usai kejadian, pengendara mobil terus tancap gas ke arah barat. Namun kendaraannya berhasil dihadang polisi di perempatan Maya. Hingga kemarin polisi masih mengusut kasus tersebut.

Malam hari sebelumnya, sebuah bus jurusan Jakarta mogok karena ban meletus di Jalan Kolonel Sugiyono, depan Apotek Benmari.
Akibat kejadian itu, lalu lintas di jalur pantura itu nyaris tersendat. Namun petugas berhasl mengurai kepadatan hingga lalu
lintas kembali berjalan normal.

Kaur Bin Ops Polresta Tegal Iptu Yuliantoro ketika ditemui di Pos Perempatan Maya mengatakan, kecelakaan pengendara motor
selama arus balik sebagian besar disebabkan faktor manusia.

Diperkirakan, kepadatan arus balik akan meningkat tajam pada Selasa (8/11). Hal itu mempertimbangan pemudik dari kalangan PNS akan kembali sehari sebelum masuk kantor, yaitu
Rabu (9/11).

Sementara itu data yang dihimpun di Dit Lantas Polda Jateng menyebutkan, pada masa angkutan arus mudik, saat Lebaran (Kamis dan Jumat) sampai arus balik, pengendara sepeda motor
banyak menjadi korban kecelakaan lalu-lintas.

Pada H-3 Lebaran tahun 2005 saja terjadi enam kejadian kecelakaan lalu-lintas yang mengakibatkan sepuluh orang tewas. Dari jumlah korban itu sebagaian besar pengendara sepeda motor di Semarang, Pekalongan, tegal, kebumen, Wonosobo, Sragen, dan Cilacap.(*)

Copyright © 2005

Lembaga Kantor Berita Nasional

ANTARA

Wednesday, April 26, 2006

FANTASTIS. Lima Juta Motor DILEGO

Selasa 17 Januari 2006, Jam: 16:45:0

MELONJAKNYA suku bunga kredit dan inflasi, ternyata tidak menggoyahkan pasar motor baru sepanjang tahun 2005. Produsen mampu menjual 5,089 juta unit. Angka yang sangat fantanstis memang.

Angka itu baru produk buatan Jepang dan Korea seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Kanzen, Kawasaki, Kymco dan Piaggio. Belum termasuk buatan negara tirai bambu.

“Penjualan sepeda motor tahun 2005 ini lebih tinggi 30,48 persen dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 3,900 juta unit,” ungkap Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Ridwan Gunawan, kemarin.

Honda masih terlalu unggul. Posisinya masih bertengger di peringkat teratas dengan angka penjualan 2,648 juta unit. Dengan demikian, Honda menguasai 52,95 persen kue pasar motor di tanah air.

Urutan kedua dan ketiga penjualan motor juga nyaris tidak berubah yang diduduki oleh Yamaha sebanyak 1,236 juta unit dan Suzuki 1,092 juta unit.

Sepeda motor Kawasaki menempati ranking keempat dengan penjualan sebanyak 77.043 unit. Peringkat kelima oleh Kanzen sebanyak 19.206 unit, keenam Kymco sebesar 15.208 unit dan urutan terakhir Piaggio sebesar 915 unit.

HEMAT ONGKOS
Tingginya animo pembelian motor di tengah lesunya ekonomi ini, didorong oleh kebutuhan masyarakat akan kendaraan yang terjangkau serta untuk menghemat ongkos transportasi. (agus w/e-mail: ]
(aw4president @yahoo.com)

http://www.harianposkota.com/oto_baca.asp?id=305&action=bacanews&ik=25

Industri Sepeda Motor: Masih Terus Bergairah



Jum'at, 20 Mei 2005 11:53 WIB - warta ekonomi.com
Industri sepeda motor di Indonesia saat ini menunjukkan suatu fenomena yang menarik. Saat perekonomian Indonesia terpuruk, industri sepeda motor ternyata menunjukkan pertumbuhan yang mencengangkan. Kini, di tengah tekanan kenaikan harga BBM, para produsen sepeda motor yang tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) tetap optimistis bakal mampu menembus angka penjualan hingga 5 juta unit pada 2005, atau tumbuh hampir 30% dibanding 2004.

Menurut ketua AISI, Ridwan Gunawan, pertumbuhan penjualan sepeda motor yang tetap tinggi, antara lain, karena sepeda motor merupakan salah satu alat transportasi yang murah dan terjangkau. Ini pas dengan kondisi ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan krisis. Beberapa produsen sepeda motor besar, seperti Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki, Vespa, dan Kymco, saat ini telah bergabung dalam asosiasi. Sementara itu, para pengusaha sepeda motor impor tergabung dalam asosiasi tersendiri.

Tingginya pertumbuhan penjualan ini juga tercermin dari total produksi yang terus meningkat dan kian bertambahnya populasi sepeda motor di Indonesia. Masih menurut data AISI, jika pada 1998 populasi sepeda motor baru mencapai 12,6 juta unit, lima tahun kemudian angkanya sudah nyaris dua kali lipat, yakni 23,31 juta unit. Populasi terbesar masih dari sepeda motor asal Jepang yang diproduksi di sini, sedangkan sebagian lainnya adalah impor, khususnya dari Cina.

Optimisme akan cerahnya pasar di Indonesia juga melanda para pengusaha sepeda motor yang bukan anggota AISI. Untuk 2005, mereka menargetkan pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan, terutama mengandalkan keunggulan harga.

Melimpahnya jumlah penduduk Indonesia telah menempatkan negeri ini sebagai pasar sepeda motor ketiga terbesar di dunia, setelah Cina dan India. Sementara dari sisi produksi, Indonesia menempati peringkat ke-4 setelah Cina, India, dan Jepang.

Tingginya permintaan domestik inilah yang menyebabkan ekspor sepeda motor menjadi kurang begitu bergairah, dan bahkan cenderung berfluktuasi. Memang, sejak 1997, ekspor sepeda motor Indonesia terus meningkat, dari 51.816 unit menjadi 115.278 unit pada tahun 2000. Akan tetapi, setelah itu, volume ekspor sepeda motor Indonesia terus melorot, sampai tinggal 13.806 unit pada 2003. Terus turunnya ekspor sepeda motor ini tak lepas dari faktor meningkatnya tarif bea masuk di sejumlah negara yang menjadi tujuan, seperti Argentina dan Vietnam. Namun, di sisi lain, harus diakui bahwa ekspor sepeda motor memang belum menjadi andalan penerimaan devisa nonmigas.

Untuk merek sepeda motor, dari produsen yang tergabung dalam AISI, Honda masih menempati peringkat teratas dengan volume produksi pada 2004 mencapai 2,04 juta unit. Posisi kedua ditempati Yamaha dengan volume produksi 878.360 unit, kemudian Suzuki (845.360 unit), Kawasaki (107.449 unit), dan Vespa (1.819 unit).

Bagaimana dengan pangsa pasarnya?
Potretnya tak jauh berbeda dengan volume produksi. Selama 2004, Honda masih tetap merajai dengan menguasai 52,4% pangsa pasar. Lapis berikutnya ditempati Yamaha dengan pangsa pasar 22,5%, disusul oleh Suzuki (21,7%), Kawasaki (2,7%), lalu Kymco dan Vespa, yang masing-masing menguasai pangsa pasar kurang dari 1%.

Sementara itu, jika dilihat dari jenisnya, sepeda motor bebek jelas sangat mendominasi. Sampai dengan 2004 mereka menguasai 89,2% pangsa pasar sepeda motor. Jenis yang kedua adalah sepeda motor sport dengan pangsa pasar 7,9%, lalu jenis bisnis (2,8%) dan skuter (0,1%).

Ada beberapa faktor yang membuat industri sepeda motor Indonesia menjadi begitu bergairah. Salah satunya adalah kemudahan untuk memperoleh sepeda motor. Bayangkan, dengan modal awal Rp500.000 saja seseorang sudah bisa memiliki sepeda motor baru--tentu saja dengan cara kredit. Faktor lainnya adalah memang ada peningkatan daya beli masyarakat. Ketiga, ini yang terpenting, maraknya lembaga-lembaga keuangan nonbank yang menawarkan sejumlah kemudahan bagi seseorang untuk memiliki sepeda motor. Mereka betul-betul berlomba menawarkan kredit dengan suku bunga yang makin murah. Sampai akhir tahun 2000 tercatat, 60%-an pembelian sepeda motor memang memanfaatkan fasilitas kredit yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga pembiayaan. Data 2003 menunjukkan, pada tahun itu lembaga-lembaga pembiayaan mengucurkan dana sekitar Rp21,18 triliun untuk pembelian sepeda motor. Sementara ketika itu total penjualan sepeda motor di dalam negeri mencapai Rp35,3 triliun.

http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=4782&cid=25

Penjualan Sepeda Motor Tembus 5 Juta Unit?

SEPEDA motor, sepanjang tahun 2005 menjadi primadona para pengguna jalan khususnya di Bandung. Itu bukan karena kendaraan ini irit bahan bakar, tetapi juga cocok untuk kondisi jalanan yang relatif tidak bertambah. Dengan sepeda motor, mobilitas masyarakat pun menjadi tinggi. Mereka bisa pergi ke mana saja tanpa perlu takut terjebak kemacetan.

Di sisi lain, pihak lembaga keuangan pun tidak segan untuk mengucurkan kredit penjualan sepeda motor. Untuk dapat memiliki sepeda motor, konsumen tidak perlu mengeluarkan dana besar, cukup membayar DP di bawah Rp 1 juta dan cicilan sekira Rp 400.000,00.

Sepeda motor itu dalam waktu tiga tahun, sudah menjadi milik sendiri. Pesona sepeda motor di tengah ekonomi sulit sepertinya akan terus bersinar. Meski harga BBM naik, sepeda motor tidak pernah kehilangan pasar, malahan jumlah penggunanya cenderung meningkat.

Dari beberapa model sepeda motor yang beredar di pasaran, varian bebek tetap menjadi favorit. Tahun ini pabrikan pun banyak merilis model bebek baru. Bahkan kapasitas mesinnya pun semakin besar mendekati kemampuan dapur pacu sepeda motor tipe sport.

Berdasarkan data AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) dan PT. Astra International Tbk, penjualan bebek terbesar berada pada kelas berkapasitas 100 hingga 110 cc. Itu merupakan kelas paling murah dari seluruh varian bebek. Honda Supra Fit menjadi model yang paling banyak dibeli dengan angka penjualan pada tahun 2005 mencapai 1.220.523 unit. Urutan berikutnya ditempati Smash 567.088 unit, Yamaha Vega R 407.372 unit, Yamaha Jupiter Z 380.211 unit, dan Honda New Supra Fit 312.616 unit.

Di kelas 125 cc Honda Supra X 125 menjadi varian yang paling laris selama periode Januari hingga November. Tercatat angka penjualan model terbaru dari Honda ini mencapai 492.902 unit. Supra X 125 menggeser Karisma X yang pada tahun 2004 menguasai pasar kelas 125 cc. Karisma X berada pada urutan kedua dengan jumlah penjualan sebanyak 381.354 unit, kemudian urutan selanjutnya Suzuki Shogun 125 sebanyak 344.918 unit. Jauh di bawahnya adalah Honda Kirana yang terjual 28.729 unit dan Kawasaki Blitz Joy 3.866 unit.

Sejak kemunculan model bebek di atas 125 cc, pabrikan sepeda motor terus memperbesar kapasitas mesin bebek. Persaingan ketat pun terjadi antara tiga pabrikan, yaitu Suzuki, Kawasaki, dan Yamaha. Animo masyarakat untuk memiliki bebek ber-cc besar cukup tinggi. Itu terbukti dari Yamaha Jupiter MX135LC yang dalam dua bulan sejak peluncuran mencapai penjualan 35.250 unit. Urutan kedua ditempati Kawasaki Kaze ZX130 29.098 unit dan Suzuki Satria F150 28.478 unit.

Meski bebek adalah model yang paling digemari, tetapi varian yang paling fenomenal adalah skuter bertransmisi otomatis. Jenis sepeda motor ini, sepanjang tahun 2005 angka penjualannya meningkat di atas 100%. Yamaha Mio menjadi pemimpin pasar dengan penjualan 131.133 unit, kemudian Yamaha Nouvo 23.236 unit, Kymco Easy 4.188 unit, Kymco Free 2.379 unit, dan Kymco Metica 2.410 unit.

Ditengah maraknya bebek dan munculnya kelas baru skuter matik, sepeda motor sport tetap eksis. Pembelinya hanya dari kalangan terbatas, karena itu angka penjualannya pada tahun 2005 tidak terlalu besar. Pemimpin pasar pada kelas ini adalah Honda GL Pro yang mencatat penjualan 88.814 unit. Kemudian Suzuki Thunder 51.853 unit, Yamaha RX King 51.472 unit, Honda GL Max 32.397 unit dan Honda Tiger 27.665 unit.

Total penjualan sepeda motor selama periode Januari hingga November mencapai angka 4,7 juta unit, atau meningkat 34% dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3.528.924 unit. Dengan sisa waktu satu bulan, AISI optimis penjualan sepeda motor tahun 2005 bisa menembus 5 juta unit.

Setelah kenaikan BBM pada bulan Oktober lalu, minat masyarakat untuk membeli sepeda motor cenderung tinggi. Itu terbukti meskipun bulan November banyak hari libur, tetapi penjualan mencapai angka 350.067 unit. "Hari kerja pada bulan November bisa dikatakan hanya setengah bulan karena adanya liburan Lebaran. Namun secara umum permintaan sepeda motor tetap bagus," kata Gunadi Sindhuwinata, Wakil ketua Umum AISI.

Seiring dengan itu, Indonesia pun semakin mengukuhkan identitasnya sebagai negara pembeli sepeda motor ketiga terbesar di dunia, setelah Cina dan India. (ovi)***


Sepeda Motor Semakin “Ngetop”

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 Oktober 2005, ternyata dampaknya luar biasa. Keluh-kesah tidak hanya terdengar dari sopir dan pengguna angkutan umum, ibu rumah tangga, atau masyarakat akar rumput, tetapi juga datang dari anggota masyarakat kelas menengah, yang sehari-harinya selalu menggunakan mobil pribadi sebagai sarana transportasi.

"Kenaikan harga BBM hingga mencapai 100% betul-betul menyakitkan. Seperti dikatakan sejumlah pengamat, besaran kenaikannnya melebihi kemampuan rakyat pada umumnya," tutur Rachmat Djunaedi. Pegawai swasta di daerah Bandung tengah, yang penghasilan setiap bulannya (gaji) Rp 4 juta itu, malahan berencana bila dalam sebulan perusahaannya tidak memberi subsidi yang signifikan atas kenaikan harga BBM, terpaksa mengganti sarana transportasinya dari mobil ke sepada motor, atau mungkin memanfaatkan angkutan umum.

Lelaki berusia 49 tahun itu menggambarkan, selama ini sarana trasnportasi dirinya dan keluarga menggunakan Toyota Kijang keluaran 2002. Setiap bulannya, Rachmat mengeluarkan dana BBM (premium) rata-rata Rp 400.000,00 sampai Rp 500.000,00/ bulan. "Dengan pengeluaran sebesar itu, saya tidak merasa berat. Pengeluaran untuk BBM masih berkisar 10% dari pendapatan bersih," katanya.

Namun, sejak Oktober, Rachmat bersama istrinya kerap terlibat diskusi di tempat tidur pada saat menjelang tidur, bagaimana menyiasati dampak kenaikan harga BBM terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga. Kalau dengan gaya hidup seperti selama ini, diakuinya pengeluaran untuk BBM akan membengkak 100% menjadi Rp 800.000,00 hingga Rp 1 juta. "Kalau tidak melakukan langkah-langkah penghematan, perekonomian keluarga bisa kacau," tambahnya.

Menurut Rachmat, kenaikan harga BBM kali ini berdampak seperti orang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pendapatan masyarakat tidak mengalami perubahan, tapi pengeluaran malah membengkak, karena harga aneka barang melonjak cukup tajam. Sehingga pengetatan ikat pinggang merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Salah satunya, ungkap Rachmat, dia berencana mengandangkan mobilnya, diganti dengan sepeda motor. "Hanya sesekali menggunakan mobil," tambahnya.

Hal senada diungkapkan Asep Hidayat asal Bandung Timur, pegawai swasta yang sehari-harinya menggunakan sedan Peugeot tahun 1985 warna putih, Gandi warga Maleer Jln. Gatot Subroto Bandung yang memiliki Honda Civic Wonder tahun 1984, Maftuh warga Jln. Pungkur, dan Edwin penduduk Perum Santosa Asih Jaya. "Bensin mahal atuh pak, jadi sekarang mah pakai motor aja biar irit," kata Gandi.

Pernyataan mereka bisa dimaklumi. Bayangkan, bila sebelumnya dengan uang Rp 25.000,00 bisa membeli 10 liter lebih premium, tapi sekarang dengan naiknya harga premium dari Rp 2.400,00/ liter menjadi Rp 4.500,00/ liter, maka uang sebanyak itu hanya mampu membeli lima liter lebih.

Berubahnya pola berkendara juga ternyata tidak hanya dilakukan kelas menengah ke bawah, juga kelas menengah ke atas. Dadang Amir Hamzah, Ketua Hiswana Migas Cabang Bandung-Sumedang, setelah adanya kenaikan harga BBM terpaksa berpikir dua kali melakukan perjalanan memakai kendaraan roda empat. Sekiranya urusan bisa diselesaikan dengan jarak jauh, ia pilih menggunakan telefon.

**

KISAH di atas hanyalah beberapa contoh, yang belum tentu bisa menggambarkan kondisi sebenarnya tentang banyaknya warga yang tadinya bermobil pribadi beralih ke sepeda motor atau kendaraan umum. Namun, kecenderungan tersebut ternyata diperkuat dengan tingkat konsumsi BBM pascakenaikan.

Berdasarkan data yang dihimpun "PR" dari pengelola SPBU, sejak kenaikan harga BBM, penjualan premium mengalami penurunan hingga 50%. Seperti diungkapkan Deni, pengelola SPBU No. 34.40110 di perempatan Jln. Supratman dan Jln. A. Yani. Menurutnya, sejak terjadinya kenaikan harga BBM, penjualan premium turun cukup tajam. Sebelumnya terjual 20 kilo liter (kl) selama satu hari satu malam, tapi kini menjadi 10 kl. Solar dari sebelumnya 10 kl menjadi 8 kl.

Hal yang sama diungkapkan Fredy, pengelola SPBU No. 34.40113 di Jln. Martadinata. Sebelum kenaikan harga BBM, penjualan premium sehari semalam mencapai 16 kl, setelah kenaikan hanya 8 kl. Beda lagi dengan SPBU Cikapayang, sejak terjadi kenaikan BBM, penurunan penjualan premium hanya 20%. Menurut pengelola, Ir. Marsu, MM, tidak terlalu turunnya penjualan karena letak SPBU Cikapayang cukup strategis, apalagi akhir-akhir ini seringkali warga Jakarta yang belanja ke Factory Outlet (FO) di Dago dan mereka selalu mengisi bensin di SPBU Cikapayang.

Ketua Hiswana Migas Cabang Bandung-Sumedang, Dadang Amir Hamzah, mengakui adanya penurunan pembelian premium di Kota Bandung. Namun pihak Hiswana belum bisa menghitung secara keseluruhan persentase penurunan tersebut. "Kami sudah mendapat laporan dari beberapa pengusaha SPBU adanya penurunan penjualan premium semenjak terjadinya kenaikan harga BBM," ujarnya.

Menurut Dadang, sudah menjadi kebiasaan setelah kenaikan harga BBM terjadi penurunan konsumsi BBM namun penurunannya tidak setajam kali ini. Karena itulah, untuk kembali normal dibutuhkan waktu cukup lama karena kenaikan harga BBM kali ini telah mengubah pola berkendara.

Humas Pertamina Cabang Bandung, Edi Adrian menyambut baik adanya penurunan konsumsi premium di Kota Bandung, dengan adanya penurunan tersebut berarti program pemerintah berhasil. "Kalau keadaan demikian berarti program penghematan yang diinstruksikan presiden berhasil," katanya.

Meski begitu, menurut Edi, sejauh ini pasokan BBM dari Pertamina masih normal dan belum ada pengurangan meski di SPBU ada penurunan penjualan.

**

MENURUNNYA permintaan BBM akhir-akhir ini, bisa jadi karena warga lebih menahan diri untuk bepergian karena sedang menjalani ibadah Saum. Mereka khawatir puasanya batal, sehingga jumlah kendaraan, baik kendaraan pribadi- roda empat maupun motor, atau kendaraan umum, berkurang di jalanan Kota Bandung. Tapi, ada bukti lain yang cukup menarik. Ternyata jumlah permintaan sepeda motor akhir-akhir meningkat.

Seperti dikatakan Rusmin pengelola Dealer Terang Motor. Ia mengaku sejak kenaikan harga BBM penjualan motor naik antara 15% hingga 25% dari hari-hari sebelumnya. "Biasanya kami mengeluarkan motor sekitar 20 unit, sekarang sudah di atas 30 unit per harinya. Namun hampir 90 persen motor itu dijual dengan sistem kredit," katanya.

Adanya kenaikan angka penjualan sepeda motor, Rusmin mengaku memang tiap bulan Ramadan selalu ada peningkatan, hanya besaran persentasenya tidak seperti tahun ini. "Mungkin sekarang lebih banyak yang beralih pakai motor karena BBM mahal," katanya.

Padahal, kata dia, membeli sepeda motor secara kredit sekarang jauh lebih sulit dari sebelumnya. Hal itu terjadi, karena banyak kreditur yang tidak mampu membayar cicilan per bulannya, sehingga motor kreditannya terpaksa disita. Belum lagi, uang muka sepeda motor, bila sebelumnya cukup Rp 500.000,00 atau bahkan 0% , kini rata-rata uang mukanya sudah naik sekitar Rp 1 juta ke atas. Bunga dari perusahaan leasing juga naik, sebelumnya 12%, sekarang sekitar 15%.

Fenomena ini tentu menjadi pertanyaan. Apakah kecenderungan itu akan terus berlangsung? Jika itu yang terjadi, Kota Bandung akan menjadi "kota motor". Namun dari pengalaman selama ini, bila bangsa ini mengalami shock biasanya hanya bersifat sementara. Kekagetan atas melambungnya harga BBM hanya sesaat. Dalam hitungan bulan, warga akan kembali ke gaya hidup semula. Atau, kenaikan harga BBM kali ini akan membawa cerita lain, sebutlah perekonomian mengalami stagnasi.

Namun, lepas dari itu semua, peristiwa tersebut harus menjadi tantangan, Pemkot Bandung sudah saatnya menata transportasi umum. Sehingga, setiap warga jika bepergian lebih memilih kendaraan umum, karena merasa lebih nyaman. Tidak seperti selama ini. (Yedi/Endi S/"PR")***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1005/12/0106.htm

Pasar Sepeda Motor Makin Luas

SAMARINDA- Tingginya minat dan animo masyarakat untuk memiliki sepeda motor, menunjukkan betapa besarnya pangsa pasar sepeda motor di pasaran. Ini juga menunjukkan betapa kondisi ekonomi yang cukup sulit pasca kenaikan BBM dianggap bukan lagi sebagai sebuah halangan untuk memiliki sepeda motor. Selain karena praktis dikendarai, sepeda motor merupakan sarana transportasi alternatif dan lebih ekonomis. Tahun ini, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menargetkan penjualan sepeda motor sebanyak 4,6 juta hingga 4,8 juta unit.

Angka ini diyakini mampu terlampaui. Apalagi melihat perkembangan dan kebutuhan akan sepeda motor, Indonesia saat ini menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah China dan India, baik dari segi penjualan maupun total produksi.

Dari semua jenis sepeda motor yang ada, popularitas sepeda motor bebek (mop-ad), tampaknya bakal tak tergoyahkan. Kendaraan yang digemari seluruh kalangan masyarakat ini mendominasi pangsa pasar sepeda motor. Popularitas dan pangsa pasarnya mencapai 90 persen. Sementara sepeda motor sport kurang dari 10 persen.

Di Kaltim, industri sepeda motor pun melaju kencang. Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki mendapat angin segar dengan serbuan konsumen. Per bulan paling tidak terjual lebih 5 ribu unit. Jika pasca kenaikan BBM ini penjualan mobil menurun, maka ini tidak berlaku bagi roda dua. Untuk mengurangi pemakaian BBM, sebagian masyarakat mengalihkan pembeliannya pada kendaraan roda dua. Ini sebabnya, laju penjualan roda dua lebih tinggi, apalagi saat ini bertepatan dengan momen Lebaran, hingga daya beli masyarakat bisa lebih kuat.

"Sama seperti tahun lalu, di momen Lebaran ini permintaan naik hingga dua kali lipat," ujar Unit Menager CV Semoga Jaya, Main Dealer Honda di Kaltim, Erwin.

Apalagi belum lama ini Honda meluncurkan produk terbarunya, Supra X 125 cc dan Supra Fit baru. "Efisiensi memang harus dilakukan. Brand Honda sebagai kendaraan irit dan ini sudah dibuktikan dalam tes, jadi Honda punya nilai lebih," ujarnya. Berdasarkan hasil lomba irit yang berlangsung 27 Maret lalu, satu liter bensin bisa digunakan untuk 92 kilometer. "Dengan harga BBM sekarang yang lebih besar, masyarakat tentu akan mencari kendaraan yang memang benar-benar sudah terbukti irit," tegas Erwin.

Sekadar diketahui, salah satu produk terbaru Honda, yaitu Supra X 125 cc baru versi velg racing memiliki output power yang cukup besar, namun tetap memiliki karakter sepeda motor Honda yang irit BBM. Mesin yang digunakan juga merupakan mesin ramah lingkungan (green engine), dengan SASS Technology (Secondary Air Supply System). Teknologi ini mengatur penyemprotan udara bersih (O2) ke dalam saluran, agar bereaksi dengan gas sisa pembakaran (CO & HC) menjadi gas CO2 dan H2O yang tidak berbahaya, dan memenuhi standar emisi yang ditetapkan oleh pemerintah. (hen)

http://www.samarinda.go.id/?q=node/3816

Pasar Sepeda Motor Indonesia Geser India

BeKAsI, (PR).
Indonesia kini menempati pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia dan ada kemungkinan menggeser India yang menempati urutan kedua. Sedangkan, pasar sepeda motor terbesar masih ditempati Cina dengan permintaan mencapai 14 juta unit per tahun. “Indonesia menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar 3,6 juta.

India mencapai 5,5 juta, namun data untuk India belum begitu jelas. Yang sudah ada laporannya, pangsa pasar di India baru sebesar 2,3 juta unit per tahun,” ungkap Presiden Direktur PT Astra Honda Motor, Minoru Yamashita, di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru ketiga Honda seluas 30 hektare dengan investasi 100 juta dolar AS di kawasan industri MM 2100 Cibitung Kab. Bekasi, Rabu (8/9).

“Dengan target produksi sepeda motor Indonesia mencapai 4 juta unit pada 2004 ini, maka ada kemungkinan menggeser posisi India,” kata Minoru. Menurutnya, perkembangan pasar sepeda motor di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan laju perekonomian yang kian membaik.

Dirjen Industri Logam Mesin Metronika dan Aneka (ILMEA) Deperindag, Subagio juga mengatakan, dengan membaiknya ekonomi tersebut, produksi sepeda motor pada tahun mendatang akan melaju melebihi tahun 1997 yaitu saat sebelum krisis.

Dengan pertumbuhan ekonomi di sektor industri otomotif tadi, Subagio berharap hal itu merupakan titik balik menggeliatnya industri kendaraan bermotor setelah mengalami tekanan selama krisis ekonomi.

Subagio menambahkan, perkembangan industri kendaraan bermotor dalam negeri dirasakan semakin menunjukkan peningkatan yang sangat berarti, sehingga memberikan harapan yang sangat menggembirakan. “Dan, ini diperkirakan akan melampaui prestasi pada saat sebelum krisis.”

Keadaan ini, kata dia, tentunya sangat menggembirakan dan mendorong semangat untuk memantapkan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan industri kendaraan bermotor di ASEAN, bahkan menjadi salah satu basis produksi sepeda motor di dunia.

SeLEsAi oKtObeR
Tentang pembangunan pabrik baru di Cibitung itu, Minoru Yamashita mengatakan rencananya akan diselesaikan pada Oktober 2005. Sedangkan, kapasitas produksi pabrik ini akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Tidak menutup kemungkinan akan terus dilakukan perluasan dengan melihat perkembangan permintaan,” katanya.

Minoru mengakui, selain pabrik ini yang akan dibangun itu, sudah ada dua pabrik produksi Honda yaitu dikawasan Sunter Jakarta Utara, dan Pegangsaan Jakarta Timur yang telah menyerap tenaga kerja sekitar 9.500 orang. “Untuk pabrik baru ini paling tidak akan terserap tenaga kerja sekira 4.000 orang,” katanya. Dengan dibangunnya pabrik tersebut, menempatkan AHM sebagai pabrikan motor terbesar di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Marketing PT AHM, Johanes Hermawan mengatakan, target produksi dan penjualan pada 2004 ini mencapai 2 juta unit. Target itu berdasarkan perkembangan produksi Honda setiap tahunnya.

Data di AHM menyebutkan, pada 2002 produksi Honda mencapai 1,437 juta. Sedang pada 2003 total produksi mencapai 1,576 juta unit. “Sampai akhir Agustus kemarin jumlah yang sudah kita produksi sebesar 1,345 juta,” ujarnya. (A-78)

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/09/0603.htm

Industri Komponen, Peluang Indonesia di Industri Otomotif

BUDI S Pranoto, Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk, pekan lalu segera bergegas terbang ke Thailand untuk melihat perkembangan industri otomotif di Negeri Gajah Putih itu. "Saya sengaja terbang ke Thailand sebelum cek kesehatan di Australia. Saya pergi ke sana memang khusus untuk melihat perkembangan industri otomotif plus komponennya yang begitu maju. Saya ingin tahu di mana posisi kita dan bagaimana prospeknya. Kalau kita tidak melihat langsung, kita tidak pernah tahu bahwa Thailand telah berkembang begitu pesat," kata Budi saat bertemu di sebuah café di salah satu hotel di Jakarta.

THAILAND memang fantastis. Negeri ini mampu memosisikan dirinya sebagai Detroit-nya Asia di bidang industri otomotif. Mereka memiliki industri tidak hanya sebatas pada industri perakitan, tetapi juga sudah masuk ke sektor manufakturnya. Hal ini tidak mustahil akan mendorong tumbuhnya industri komponen. Kemampuan mereka untuk tumbuh seperti jamur sangat dimungkinkan karena memang fokus kebijakannya ada, juga dukungan dana bank yang murah. Praktis kegiatan produksi menjadi efisien. Kondisi itulah yang mendorong beberapa pabrikan mobil bermerek memilih Thailand sebagai basis produksinya untuk Asia.

"Ini harus kita waspadai, apalagi konsep strategi bisnis ke depan produsen otomotif dunia adalah satu pasar Asia. Kalau kita tidak jeli, maka potensi pertumbuhan pasar komponen di Asia, khususnya Indonesia yang begitu pesat setelah memasuki masa krisis tahun 1998 akan mereka ambil. Jadi kita juga m esti punya strategi yang jitu," kata Budi dengan nada meyakinkan.

PERKEMBANGAN industri komponen di dalam negeri memang semakin marak. Meskipun sampai saat ini belum ada data yang pasti berapa sebenarnya para pelaku industri besar, menengah maupun kecil yang bergerak di industri komponen. Namun terlepas dari ketidakjelasan itu, yang pasti tren pertumbuhan otomotif roda dua maupun empat semakin marak, seiring dengan strategi baru pemain otomotif dunia untuk menjadikan Asia sebagai basis industri mereka. Hal itu mendorong permintaan akan jenis komponen yang beragam juga semakin tinggi sehingga membuka peluang yang tidak kecil, khususnya di sektor kendaraan roda dua.

"Pertumbuhannya luar biasa setelah krisis. Paling tidak pengalaman yang saya alami sendiri. Saat krisis luar biasa pahitnya. Saya yang baru tumbuh pada tahun 1995-an tiba-tiba harus menghadapi kenyataan hilangnya pasar. Penghasilan yang awalnya mencapai ratusan juta rupiah anjlok hingga tinggal puluhan juta rupiah per bulan sulit minta ampun. Itu pun masih harus berebut dengan yang lainnya," kata Presiden Direktur PT Wijaya Adhi Citra Linggo Suprapto mengenang masa sulit tersebut.

Buruknya situasi itu membuat kalangan pelaku di industri komponen rontok satu per satu dimakan beban meningkatnya biaya bank. Jepitan itu pada akhirnya memaksa kalangan industri komponen untuk melepas asetnya dan yang dipilih adalah mesin untuk membuat komponen. Praktis jumlah pelaku di sektor komponen otomotif pun semakin mengecil. "Tak sedikit dari para pelaku industri komponen yang terpaksa menjual asetnya yang paling berharga, yaitu mesin sekadar untuk menutup utang."

Sejak saat itu, kata Linggo, dirinya harus memutus puluhan mitra yang selama ini menerima order darinya. Kini mitra itu tinggal 17 orang. Tahun 1998, betul-betul tahun yang pahit. Pada saat itu tak banyak pelaku yang bisa menjual produknya karena pengguna yaitu industri sepeda motor seperti Honda, Yamaha, Kawaski, maupun Suzuki juga banyak kehilangan order. Bahkan Honda yang pernah mencapai 800.000 unit pada tahun itu turun hingga 400.000-an unit. Kelesuan pasar sepeda motor itu praktis memukul para produsen komponen.

Namun masuk pada tahun 1999, situasi pasar sepeda motor mulai membaik. Pasar kembali mencapai hampir satu juta unit. Puncaknya adalah tahun 2002 dimana pasar meningkat hingga dua juta unit lebih. Bahkan menurut data kalangan agen tunggal pemegang merek, selama empat bulan tahun 2003 volume penjualan pasar sepeda motor sudah mencapai 734.772 unit. Membaiknya pasar ini, kata Linggo, juga memperbaiki hasil penjualan bersih mereka. Kini order yang dikerjakannya mencapai 300 sampai 350 jenis dengan nilai Rp 3 miliar per bulan. Menurut Linggo, di areal pabrik seluas 6.000 meter lebih ini dibuat berbagai macam komponen otomotif untuk kendaraan roda dua merek Honda, Kawasaki, Yamaha, maupun Suzuki, umumnya adalah komponen yang bersifat general seperti ring, briket, gasket, maupun knalpot yang dibuat dalam bentuk terurai. Di pabrik komponen itu baru dirakit menjadi unit sepeda motor.

Apa yang dikemukakan oleh Linggo diamini oleh Direktur Teknik PT Melati Unggul Sarana M Sunarto. Pensiunan perwira menengah Angkatan Udara ini merupakan mitra dari PT Wijaya yang diberi order untuk membuat briket. Omzetnya memang belum besar, yakni masih berkisar puluhan juta saja per bulan. Namun secara tren pertumbuhannya, kata Sunarto, terus meningkat.

GAMBARAN itu, tambah Budi Pranoto, menunjukkan bagaimana tren pasar komponen ini begitu tinggi. Katakan dengan perkiraan ekstrem pertumbuhan industri otomotif dalam lima tahun ke depan mencapai 2,2 juta unit per tahunnya, maka paling tidak akan ada 11 juta unit dalam lima tahun itu. Semua itu butuh komponen baru. Angka itu belum termasuk sepeda motor bekas yang minimal mencapai puluhan juta unit dalam 10 tahun terakhir. "Jadi ini merupakan peluang yang tidak kecil. Kalau kita salah membaca peta persoalan, maka Thailand, Cina, maupun Taiwan yang selama ini dikenal sebagai produsen komponen akan memukul industri nasional. Akhirnya segmen pasar kita bisa digerogoti," kata Budi

Oleh sebab itu, dirinya berangkat ke Thailand untuk menjajaki kemungkinan kerja sama yang lebih luas. Kerja sama itu tidak hanya sebatas traders, tetapi dimungkinkan untuk menjadi mitra investasi. Kalau rencana itu sampai direalisasikan bukan semata-mata produsen lokal, seperti Astra Otoparts ini tidak ingin mengembangkan di Indonesia. Namun langkah itu dipilih sebagai tindakan antisipasi pasar menjelang putusan para pemain otomotif dunia untuk memberlakukan Asia sebagai satu pasar. Pilihan ke Thailand ini selain biaya bunga hanya 4 persen juga memiliki jaringan yang kuat. Dengan demikian posisi produsen nasional seperti Astra Otoparts bisa lebih leluasa untuk memainkan peluang pasar yang lebih luas. Apa pun yang terjadi dengan bermitra di Thailand, tetap memberikan keuntungan yang lebih besar apalagi nanti tidak ada lagi batasan pasar dan proteksi bea masuk.

"Industrinya menjadi efisien dan jaringannya kuat. Kita jadi tidak hanya masuk ke pasar Thailand, tetapi Juga Malaysia, maupun Indonesia sendiri. Ini kan keuntungan yang tidak kecil. Bagi saya bagaimana cara menguasai pasar dengan menumpang kendaraan lain," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya tengah merancang suatu pola perdagangan yang lebih modern. Tidak lagi hanya sebatas melalui jalur yang panjang, tetapi lewat service point, sehingga mata rantai bisa dipotong lebih pendek. Dengan cara ini, jika manufakturnya kalah, maka transaksinya masih kuat. Namun bisa jadi, dengan kuatnya transaksi tersebut, maka industri tidak terpotong.

Namun apa pun kenyataannya, tren bisnis komponen terus menanjak. Sebagai gambaran bisa dilihat dari pertumbuhan ritel yang dikembangkan oleh Astra Otoparts. Tahun 1997 jumlah ritel komponen baru mencapai 1.921 outlet. Tahun 1998 meningkat lagi menjadi 2.130 ritel, tahun 2000 menjadi 3.377 ritel dan tahun 2002 melonjak menjadi 10.381 ritel. Bahkan dalam tiga bulan tahun 2003 naik lagi menjadi 10.907 ritel.

Penjualan bersih setelah konsolidasi pada tahun 1998 mencapai Rp 1,237 triliun, tahun 2000 naik menjadi 1,944 triliun dan tahun 2001 menjadi 1,097 triliun. Namun memasuki tahun 2002 penjualan bersih Astra Otopart menurun menjadi 2,063 triliun, maka secara keseluruhan data itu mengindikasikan bagaimana kuatnya tren pertumbuhan permintaan akan komponen. Dalam beberapa tahun ke depan peluang bakal semakin besar.

Paparan di atas menunjukkan bagaimana sektor ini merupakan industri potensi di masa depan. Oleh sebab itu, pemerintah harus membantu dengan membuat kebijakan industri yang lebih fokus dan sinergi dengan sektor keuangan agar insentif itu bisa dinikmati para pelaku.

Dukungan ini sangat penting, agar momentum satu pasar Asia bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku komponen otomatif nasional, baik yang bergerak di sektor perdagangan maupun industrinya.

Bila tidak, tambah Samsi Achmad yang juga Direktur Melati Unggul Sarana. Menurut Achmad, pemerintah, khususnya daerah justru tidak mendukung kegiatan yang dikembangkan oleh industri menengah komponen. Berbagai kebijakan yang dibuat seolah ditujukan untuk menyengsarakan pengusaha. Misalnya mereka meminta untuk dilakukan pemutihan izin usaha industri yang dulu dikeluarkan pusat dengan mematok tarif tertentu. Demikian juga pengenaan iuran untuk kompresor, maupun diesel yang luar biasa mahalnya. Praktis industri komponen tidak bisa berkembang baik.

"Belum lagi pajak yang tidak jelas aturan mainnya. Jadi pengusaha ini akhirnya jadi bahan perahan dan tidak bisa efisien. Hasilnya barang yang dijual menjadi lebih mahal," kata Achmad. Sayang, jika perilaku aparat ini pada akhirnya membuat industri komponen otomotif nasional kehilangan daya kompetitifnya di pasar lokal maupun Asia.

Bila kondisi yang membaik ini justru didukung, maka akan lebih baik hasilnya. Industri komponen nasional bisa ikut bermain dan mungkin menang sektor tertentu di industri otomotif. (ast/boy)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/22/Otomotif/324945.htm

Indonesia Tempati Tingkat Ketiga Pasar Ekspor Sepeda Motor

Rabu, 08 September 2004 | 15:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia saat ini menempati pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia. Hal ini dikatakan Presiden Direktur PT AHM, Minoru Yamashita, di Bekasi, Rabu (8/9).

Menurutnya, posisi ketiga Indonesia masih bisa naik menempati posisi kedua bahkan posisi pertama. Diposisi pertama pangsa pasar sepeda motor terbesar dipegang oleh Cina dengan besar permintaan 14 juta unit pertahun.

Sedang diposisi kedua ditempati oleh India dengan pangsa pasar mencapai 5,5 juta. Indonesia menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar 3,6 juta.

Namun, kata dia, data untuk India sebenarnya belum begitu jelas, yang sudah ada laporannya pangsa pasar di India baru sebesar 2,3 juta unit. "Dengan target produksi sepeda motor Indonesia mencapai 4 juta unit pada tahun 2004 ini, maka ada kemungkinan menggeser posisi India," kata Minoru.

Minoru mengatakan, perkembangan pasar sepeda motor di Indonesia dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Menurutnya, hal itu seiring dengan laju perekonomian yang kian membaik. Bahkan, Dirjen Industri Logam Mesin Metronika dan Aneka, Subagio mengatakan, dengan seiringnya membaiknya ekonomi tadi, produksi sepeda motor pada tahun mendatang akan melaju melebihi tahun 1997 yaitu saat sebelum krisis.

Dengan pertumbuhan ekonomi disektor industri otomotif tadi, Subagio juga mengharapkan, hal ini merupakan titik balik menggeliatnya industri kendaraan bermotor setelah mengalami tekanan selama krisis ekonomi.

Subagio mengatakan perkembangan industri kendaraan bermotor dalam negeri dirasakan semakin menunjukkan peningkatan yang sangat berarti, sehingga memberikan harapan yang sangat menggembirakan.
Dan diperkirakan akan melampaui prestasi pada saat sebelum krisis.

Muhamad Nafi –

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/22/Otomotif/324945.htm